Air Ledeng Pontianak Terasa Asin Saat Kemarau, Herman Hofi: Fenomena Alamiah




Kalbarsatu //

Pontianak - Perubahan rasa dan tingkat kekeruhan air ledeng PDAM Pontianak selama musim kemarau dinilai tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis Kota Pontianak yang berada di wilayah hilir Sungai Kapuas dan dekat dengan kawasan muara.


Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik, Dr. Herman Hofi Munawar, menjelaskan bahwa kondisi tersebut pada dasarnya berkaitan dengan fenomena alamiah pada sistem hidrologi sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.


Menurut Herman Hofi, posisi geografis Pontianak membuat sumber air baku PDAM sangat dipengaruhi dinamika arus Sungai Kapuas serta pergerakan pasang surut dari wilayah muara.


“Secara mendasar, kondisi ini merupakan dampak dari fenomena alamiah yang terjadi pada sistem hidrologi muara sungai pasang surut,” ujar Herman Hofi.


Ia menjelaskan, persoalan biasanya semakin terasa ketika musim kemarau berlangsung. Curah hujan di wilayah hulu Sungai Kapuas yang menurun menyebabkan debit dan dorongan air tawar menuju hilir ikut melemah.


Dalam kondisi tersebut, tekanan air tawar dari hulu tidak lagi cukup kuat untuk menahan masuknya air laut saat pasang. Akibatnya, air laut dapat bergerak lebih jauh ke badan Sungai Kapuas atau mengalami intrusi air laut.


Dampaknya, titik pengambilan air baku atau intake PDAM berpotensi terpapar peningkatan kadar garam sekaligus material sedimen dari kawasan muara.


PDAM Tidak Dirancang untuk Menghilangkan Garam


Herman Hofi mengatakan, instalasi pengolahan air PDAM pada dasarnya dirancang untuk mengolah air tawar permukaan. Proses pengolahan umumnya berfungsi mengurangi kekeruhan dan melakukan proses pengamanan terhadap mikroorganisme.


Namun, sistem pengolahan air konvensional tidak secara khusus dirancang untuk menghilangkan kandungan garam akibat intrusi air laut.


“Ketika fenomena alam ini mencapai puncaknya, rasa asin pada air ledeng tidak dapat terelakkan,” jelasnya.


Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata-mata persoalan teknis pelayanan PDAM, tetapi juga tantangan lingkungan yang secara alami dapat terjadi pada wilayah perkotaan yang berada di kawasan hilir sungai dan dekat dengan muara.


Meski demikian, kondisi alamiah tersebut tetap perlu diantisipasi dengan langkah teknis dan perencanaan jangka panjang.


Herman Hofi berharap masyarakat dapat memahami kondisi geografis Kota Pontianak, sementara PDAM Pontianak dan Pemerintah Kota Pontianak terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak intrusi air laut.


Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mengoptimalkan titik intake alternatif serta melakukan rekayasa teknis agar pengaruh air asin terhadap sumber air baku dapat diminimalkan selama musim kemarau.


“Ini merupakan tantangan alamiah tahunan yang dialami kota-kota pesisir dan wilayah muara sungai di berbagai tempat. Karena itu, diperlukan antisipasi dan rekayasa teknis agar dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan,” pungkasnya.


Tim Red